MODEL PEMBELAJARAN YANG DAPAT MENINGKATKAN HOTS (HIGH ORDER THINKING SKILLS) PADA PEMBELAJARAN IPA RESUME JURNAL
Disusun sebagai salah satu tugas Untuk memenuhi mata kuliah Pendidikan IPA
Oleh Fara Yuni Sulistiyowati
NIM 182180132
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO 2020
A.PENDAHULUAN
Penerapan kurikulum 2013 membawa konsekuensi adanya perubahan mendasar dalam kegitan belajar di kelas menjadi banyak opsi penilaian. Bukan hanya pennilaian dalam hal pengetahuan melainkan proses belajar belajar siswa aktif untuk mengembangkan aspek sikap, pengetahuan, dan kemampuan.Penilaian dilakukan oleh guru dari mulai awal semester hingga akhir semester jadi mulai dari proses belajar sampai akhir belajar (Tes/evaluasi). Dalam hal ini membahas tentang Ilmu Pengetahuan Alam yang sering disebut dengan istilah pendidikan sains atau sering disingkat IPA.Pelajaran ini terkadang masih dianggap sulit oleh beberapa siswa, sehingga masih banyak siswa yang terkadang malas karena sudah tersugesti atau menggap IPA adalah pelajaran yang sulit. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah masalah lemahnya pelaksanaan proses pembelajaran yang diterapkan para guru di sekolah. Proses pembelajaran yang terjadi selama ini kurang mampu mengembangkan Higher Order Thinking Skills atau yang dikenal dengan HOTS (kemampuan berpikir tingkat tinggi) peserta didik. Pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas hanya diarahkan pada kemampuan siswa untuk menghafal informasi, otak siswa dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diperoleh untuk menghubungkannya dengan situasi pendidikan saat ini. Masalah tersebut juga menjadi hambatan dari pembelajaran IPA atau sains pada saat ini.Guru lebih menekankan pada hafalan serta bila ada yaitu sedikit hitungan. Hal tersebut juga dapat membuat anak bosan serta memaksa untuk menghafal di dalam otaknya jika itu dibiarkan akan menimbulkan kejenuhan pada anak.Bahkan bisa membuat anak bingung dengan pelajaran tersebut karena hanya mengandalkan hafalan tanpa diselingi dengan metode belajar lain yang dapat membantu siswa memahami pelajaran. Hal lain yang menjadi kelemahan dalam pembelajaran IPA adalah masalah proses penilaian pembelajaran yang tidak akurat dan tidak menyeluruh. Proses penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata hanya menekankan pada penguasaan konsep yang dijaring dengan tes tulis objektif dan subjektif sebagai alat ukurnya. Dengan cara penilaian seperti ini berarti pengujian yang dilakukan oleh guru baru mengukur penguasaan materi saja dan itu pun hanya meliputi ranah kognitif tingkat rendah. Padahal pemerintah telah menetapkan penilaian sebagai salah satu dari delapan Standar Nasional Pendidikan dalam PP No. 23 tahun 2013 dan juga telah menetapkan sekaligus membahas penilaian oleh pendidik dalam Permendikbud No. 104 tahun 2014. High Order Thinking Skills (HOTS) adalah keterampilan berpikir siswa pada level kognitif yang lebih tinggi. Pada penelitian ini peneliti mengacu pada metode kognitif taksonomi Bloom yang sudah direvisi. Dalam taksonomi Bloom terdapat 6 domain kognitif, yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Kemampuan mengingat, memahami, dan mengaplikasikan termasuk ke dalam level kognitif rendah. Sedangkan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi. Pada umumnya yang sering diterapkan di Sekolah Dasar masih pada level kognitif rendah yaitu mengingat, memahami, dan mengaplikasikan. Sehingga materi pelajaran yang didapat siswa masih berupa hafalan, pemahaman, atau penerapan yang masih dalam konteks sempit. Siswa belum mengeksplore kemampuan untuk menganalisa, mengevaluasi informasi, dan menciptakan hal-hal baru dari informasi yang didapatnya. Dengan begitu, akan berdampak pada mutu pendidikan di Indonesia yang lebih rendah dibanding dengan negaranegara lain (Saputra, 2016: 106). Hal tersebut dapat dilihat pada data UNDP (United Nations Development Programe) mutu pendidikan Indonesia terkait literasi dasar khususnya matematika dan IPA (Sains) masih tertinggal dari negara-negara tetangga. Dalam laporan yang lebih rinci dapat dilihat dari OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) tentang PISA (Programe for International Student Assessment) yang mereka selenggarakan untuk mengukur mutu, ekuitas, dan efisiensi pendidikan di sekolah (Saputra, 2016: 86-87). Lembaga ini mengevaluasi sistem pendidikan di seluruh dunia. Setiap tiga tahun sekali menyelenggarakan tes dengan diikuti siswa dari sekolah yang diacak di seluruh dunia fokus mata pelajarannya membaca, matematika, dan sains. Pada penelitian ini peneliti fokus menerapkan High Order Thiking Skills (HOTS) pada mata pelajaran IPA. IPA merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan sebuah proses penemuan (Sujana, 2014: 4). Dengan begitu mata pelajaran IPA perlu diajarkan mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai perguruan tinggi (Sujana, 2014: 5). Ada berbagai alasan yang menyebabkan IPA dimasukkan ke dalam mata pelajaran di sekolah, antara lain (Usman 2006 dalam Sujana, 2014: 5) : (1) IPA merupakan dasar teknologi sehingga sering disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan; (2) IPA merupakan mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis; (3) IPA tidak hanya mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka; (4) IPA mempunyai nilainilai pendidikan yang tinggi, yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan. Pada assessment OECD terkait mata pelajaran IPA (sains) kompetensi yang diukur yaitu penyelidikan dan pengukuran proses ilmiah, mengidentifikasi isu-isu saintifik, menjelaskan fenomena ilmiah, dan bukti secara ilmiah. Kompetensi tersebut kompetensi yang masuk pada High Order Thiking Skills (HOTS) (Herlanti, 2014: 14).
B.PEMBAHASAN
HOTS ( High Order Thinking Skills ) High Order Thingking Skills merupakan suau proses berpikir peserta didik dalam level kognitif yang lebih tinggi yang dikembangkan dari berbagai konsep dan metode kognitif dan taksonomi pembelajaran seperti problem solvig, taksonomi bloom, dan taksonomi pembelajaran, dan penilaian (Saputra, 2016: 91). High order thinking skills ini meliputi di dalamnya kemampuan pemecahan masalah, berargumen berpikir kreatif, berpikir kritis, kemampuan berargumen, dan kemampuan mengambil keputusan. Menurut King, HOTS termasuk di dalamnya berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif, sedangkan menurut Newman dan Wehlage (Widodo, 2013: 162) dengan high order thinking skills peserta didik akan dapat membedakan ide atau gagasan secara jelas, berargumen dengan baik, mampu memecahkan maslah, mampu mengkontruksi penjelasan, mampu berhipotesis dan memahami hal-hal kompleks menjadi lebih jelas. Menurut Vui (Kurniati, 2014: 62) HOTS akan terjadi ketika seorang mengaitkan informasi baru dengan informasi yang sudah tersimpan di dalam ingatannya dan mengaitkannya dan/atau menata ulang serta mengembangkan informasi tersebut untuk mencapai suatu tujuan atau menemukan suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang sulit dipecahkan. Tujuan dari HOTS adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik pada level yang lebih tinggi, terutama yang berkaitan dengan kemampuan untuk berpikir secara kritis dalam menerima berbagai jenis informasi, berpikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah menggunakan pengetahuan yang dimiliki serta membuat keputusan dalam situasi-situasi yang kompleks (Saputra, 2016: 91-92). Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) IPA didefinisikan sebagai ilmu tentang alam yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan ilmu pengetahuan alam, dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu ilmu pengetahuan alam sebagai produk, proses, dan sikap (Susanto, 2012). IPA sebagai produk, yaitu kumpulan hasil penelitian yang telah ilmuwan lakukan dan sudah membentuk konsep yang telah dikaji sebagai kegiatan empiris dan kegiatan analitis. Bentuk IPA sebagai produk antara lain: fakta-fakta (pernyataan tentang benda-benda yang benar ada atau peristiwa-peristiwa yang benar terjadi, dan mudah dikonfirmasi secara objektif), konsep (ide yang mempersatukan konsepkonsep), prinsip (generalisasi tentang hubungan di antara konsepkonsep IPA), hukum-hukum alam (prinsip yang sudah ada meskipun bersifat tentatif tetapi karena ada pengujian yang berulang maka hokum alam bersifat kekal selama belum ada pembuktian yang lebih akurat dan logis, dan teori ilmiah (kerangka yang lebih luas dari faktafakta, konsep, prinsip yang saling berhubungan).IPA sebagai proses, yaitu untuk menggali dan memahami pengetahuan tentang alam. Proses dalam memahami IPA disebut kemampuan proses sains (science process skills) adalah kemampuan yang dilakukan oleh para ilmuwan, seperti mengamati (observasi), mengukur, mengklasifikasikan, menyimpulkan (inferensi). IPA sebagai sikap, Sikap ilmiah harus dikembangkan dalam pembelajaran sains. Sikap dalam pembelajaran IPA yang dimaksud ialah sikap ilmiah. Jadi, dengan pembelajaran IPA di sekolah dasar dapat menumbuhkan sikap ilmiah seperti seorang ilmuwan. Adapun jenis-jenis sikap yang dimaksud, yaitu: sikap ingin tahu, percaya diri, jujur, tidak tergesa-gesa dan objektif terhadap fakta. Menurut Sulistyorini, ada sembilan aspek yang dikembangkan dari sikap ilmiah dalam pembelajaran sains, yaitu: sikap ingin tahu, ingin mendapat sesuatu yang baru, sikap kerja sama, tidak putus asa, tidak berprasangka, mawas diri, bertanggung jawab. Berpikir bebas, dan kedisiplinan diri. Sikap ini dapat dikembangkan saat melakukan diskusi, percobaan, simulasi, dan kegiatan proyek di lapangan. Menurut Sulistyorini, ada sembilan aspek yang dikembangkan dari sikap ilmiah dalam pembelajaran sains, yaitu: sikap ingin tahu, ingin mendapat sesuatu yang baru, sikap kerja sama, tidak putus asa, tidak berprasangka, mawas diri, bertanggung jawab. Berpikir bebas, dan kedisiplinan diri. Sikap ini dapat dikembangkan saat melakukan diskusi, percobaan, simulasi, dan kegiatan proyek di lapangan. Kondisi ini menjadikan IPA salah satu ilmu pengetahuan yang wajib dikuasai sebagaimana dalam Undangundang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang telah jelas menguraikan bahwa IPA merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang wajib diajarkan kepada siswa sejak dini. Oleh karena itu perlu dikuasai dengan baik oleh siswa, terutama sejak usia sekolah dasar. Penyelenggaraan pendidikan pada jenjang sekolah dasar bertujuan memberikan bekal kepada siswa untuk hidup bermasyarakat dan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maka tujuan pembelajaran IPA di sekolah dimaksudkan agar dapat memberikan bekal kepada siswa dengan tekanan penataan nalar dalam penerapan IPA. Berdasarkan pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 dikatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Maka siswa dituntut mampu berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan suatu masalah. Untuk itu guru sejatinya mampu mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa menggunakan pembelajaran saintifik antara lain mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengolah informasi, menyajikan, menyimpulkan, dan mengomunikasikan. Pada penelitian ini, HOTS yang dimaksud peneliti dibatasi pada tahapan C4, C5, dan C6. Strategi pembelajaran merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran, sehingga akan memudahkan peserta didik mencapai tujuan yang dikuasai di akhir kegiatan belajar. Pemilihan strategi pembelajaran pada dasarnya merupakan salah satu hal penting yang harus dipahami oleh setiap guru, mengingat proses pembelajaran merupakan proses komunikasi multiarah antarsiswa, guru, dan lingkungan belajar. Karena itu pembelajaran harus diatur sedemikian rupa sehingga akan diperoleh dampak pembelajaran secara langsung (instructional effect) ke arah perubahan tingkah laku sebagaimana dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Peneliti memilih strategi pembelajaran konvensional dan inquiry sebagai variabel bebasnya. Strategi pembelajaran konvensional adalah strategi pembelajaran yang diterapkan oleh sekolah dalam kurun waktu yang lama dan bersifat tradisional dan berpusat pada guru (teacher centered) yang menyebabkan proses pembelajaran menjadi transfer of knowledge melalui penyampaian tujuan pembelajaran, pemberian informasi, tanya jawab, pemberian latihan, dan pemberian umpan balik kepada siswa. Strategi pembelajaran konvensional banyak diaplikasikan atau dipadupadankan dengan strategi pembelajaran lain yang dipakai oleh guru. Dalam hal ini dapat diamati kelebihan dan kekurangannya yaitu seperti tampak pada tabel berikut: Sedangkan strategi pembelajaran Inquiry adalah cara-cara yang dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar dalam menyampaikan materi pembelajaran untuk memenuhi rasa ingin tahu siswa melalui merumuskan masalah, mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, sampai mengambil keputusan sendiri. Motivasi Motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah lakuknya, berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu. Berkaitan dengan pengertian motivasi, beberapa psikolog menyebut motivasi sebagai konstruk hipotesis yang digunakan untuk menjelaskan keinginan, arah, intensitas, dan keajegan perilaku yang diarahkan oleh tujuan. Dalam motivasi tercakup konsepkonsep, seperti kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan berafiliasi, kebiasaan, dan keingintahuan seseorang terhadap sesuatu. Motivasi didorong kekuatan-kekuatan yang pada dasarnya dirangsang oleh adanya berbagai macam kebutuhan, seperti (1) keinginan yang hendak dipenuhinya; (2) tingkah laku; (3) tujuan; (4) umpan balik. Motivasi belajar merupakan salah satu faktor internal yang turut mempengaruhi hasil belajar siswa. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, sarana dan prasarana, lingkungan belajar yang kondusif, kegiatan belajar yang menarik, mendapat pujian, dan nilai bagus. Tetapi harus diingat, kedua faktor tersebut disebabkan oleh rangsangan tertentu, sehingga seseorang berkeinginan untuk melakukan aktivitas belajar yang lebih giat dan semangat, sehingga motivasi dalam diri siswa ini dapat diukur lemah atau kuat saat penerapan strategi pembelajaran IPA oleh guru di kelas. Di dalam pemberian motivasi, para pakar satu dengan lainnya hampir memiliki kesamaan. Mereka yang konsen menelaah pengaruh motivasi dalam berbagai kegiatan, antara lain Koontz , Weihrich, Gibson, Ivancevich, Donelly, dan Robbins. Menurut mereka pemberian motivasi pada seseorang merupakan suatu mata rantai yang dimulai dari kebutuhan, menimbulkan keinginan, menyebabkan tensi, menimbulkan tindakan, menghasilkan keputusan. METODE PENELITIAN Metode dalam penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen. Dengan menggunakan faktorial 2 x 2 yang menggunakan tiga variabel penelitian. Variabel terikat adalah Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam pembelajaran siswa, variabel bebas yaitu strategi pembelajaran berupa strategi inquiry (A1) dan strategi konvensional (A2), sedangkan variabel moderator adalah motivasi belajar yang terdiri darimotivasi belajar tinggi (B1) dan motivasi belajar rendah (B2). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (1) instrumen Higher Order Thinking Skills IPA berupa tes pilihan ganda, (2) instrumen motivasi belajar. Teknik analisa data menggunakan ANAVA dua jalur dan pengujian simple effect dengan uji t-dunnet. Pengujian normalitas dilakukan menggunakan Liliefors dan uji homogenitas dengan uji Barlett. HOTS dan Kaitannya dengan Keterampilan generik sains pembelajaran IPA SD Keterampilan generik sains mengajak peserta didik untuk dapat berpikir melalui sains dalam kehidupannya. Sesuai dengan tujuan dari high order thinking skills adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik pada level yang lebih tinggi, terutama yang berkaitan dengan kemampuan untuk berpikir secara kritis dalam menerima berbagai jenis informasi, berpikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah menggunakan pengetahuan yang dimiliki serta membuat keputusan dalam situasi-situasi yang kompleks (Saputra, 2016: 91-92). Berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir yang mengaitkan informasi yang baru dengan informasi dengan informasi yang telah didapatkan kemudian dihubungkan informasi tersebut untuk dapat menyelesaikan atau menemukan suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang akan dipecahkan (Slamet, 2011: 1). Melalui keterampilan generik sains peserta didik dapat mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Keterampilan generik sains mempunyai delapan indikator yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dapat mengaktifkan semua keterampilan yang ada di dalam high order thinking skills, termasuk di dalamnya yaitu berpikir kritis, logis, reflektif, metakognisi, dan kreatif. Terdapat empat konsep yang mendasari high order thinking skills yang salah satunya yaitu problem solving yang artinya sebuah proses dimana setiap individual menggunakan pengetahuan yang diperoleh, keterampilan, pemahaman yang kemudian digunakan dalam situasi baru. Menuju ke dalam situasi baru tersebut tentunya sangat membutuhkan adanya keterampilan generik sains. Hal tersebut di karenakan indikatorindikator yang ada dalam keterampilan sains akan membentuk peserta didik yang dapat berpikir kritis, berpikir kreatif, serta dapat mengambil sebuah keputusan berdasarkan pengetahuan dan informasi yang telah mereka pahami, di dalam proses penyelesaiannya pun akan menjadi lebih mudah. Peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi yang baik dan tingkat kecerdasan yang baik diharapkan akan memiliki keterampilan generik sains yang baik. Terdapat hubungan positif antara kemampuan berpikir tingkat tinggi dan tingkat kecerdasan secara simultan dengan keterampilan generik sains. Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan kompetensi kognitif tertinggi yang perlu dikuasai peserta didik dalam pembelajaran. Berpikir tingkat tinggi dapat dipandang sebagai kemampuan berpikir peserta didik untuk membandingkan dua atau lebih informasi. Bila terdapat perbedaan atau persamaan, maka ia akan mengajukan pertanyaan atau komentar dengan tujuan untuk mendapatkan penjelasan dan mengambil sebuah keputusan untuk menyelesaikan masalah yang ada di sekitarnya (Zohar & Dori, 2003). Berdasaran pemaparan tersebut, kemampuan berpikir tingkat tinggi atau high order thinking skills dan tingkat kecerdasan tinggi secara simultan dapat menunjang keterampilan generik sains yang dimiliki oleh peserta didik.
C.KESIMPULAN Berdasarkan tahapan penelitian dan pengembangan yang dilalui kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Higher Order Thinking Skills (HOTS) IPA siswa pada kelompok yang diajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran inquiry lebih tinggi daripada siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran konvensional.
2. Terdapatnya pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan motivasi belajar terhadap Higher Order Thinking Skills (HOTS) IPA siswa.
3. Higher Order Thinking Skills (HOTS) IPA kelompok siswa dengan strategi Inquiry yang memiliki motivasi belajar tinggi lebih tinggi daripada kelompok siswa dengan strategi Konvensional yang memiliki motivasi belajar rendah.
4. Higher Order Thinking Skills (HOTS) IPA antara kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar rendah yang diajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Kovensional lebih rendah daripada siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran Inquiry yang memiliki motivasi belajar rendah.
D.Daftar Pustaka
1.Irmawati, Retno Dewi dkk.2018.Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Motivasi Belajar Terhadap Higher Order Thinking Skill (HOTS) Dalam Pembelajaran IPA Siswa Kelas IV SEKOLAH DASARUniversitas Negeri Jakarta.Link di akses pada 17 Februari 2020.
2. Wahyuningsih, Yuli dkk.2019.HOTS_IPA SD.Jurnal.Universitas Muhammadiyah Purworejo.Link diakses pada 17 Februari 2020.
3. Yuliyanti.2018.Implementasi Model Discovery Learning Based On Experiment untuk Meningkatkan HOTS. Universitas Negeri Jakarta.Link diakses pada 17 Februari 2020.
4. Ningrum, Vitria Oktavia dkk.2018.Pembelajaran IPA Berbasis CLIS Terhadap Berfikir Kritis Siswa. Universitas Negeri Yogyakarta.Link diakses pada 17 Februari 2020.
5. Hutabarat, Rasmi.2019.Peningkatan HOTS Pada Pembelajaran Sifat dan Perubahan Wujud Benda Melalui Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (TM) Kelas IV SD Negeri 167959 Kota Tebing Tinggi Tahun Pelajaran 2017/2018. SD NEGERI 16795.Kota Tebing Tinggi.Link diakses pada 17 Februari 2020.
6. Dewi, Peronika.2018. CHARACTER INTEGRATION AND HIGH OTHER THINKING SKILL (HOTS) IN SCINCE LEARNING AS AN IMPROVE LEARNING.Universitas Riau.Link diakses pada 17 Februari 2020.
7. Asdiana.2015. HIGH ORDER THINKING PADA PEMBELAJARAN IPA MELALUI TEKNIK MAKE - A MATCH DI SEKOLAH DASAR. Sekolah Dasar 01 Sayap.Link diakses pada 17 Februari 2020.
8. Agustin,Nia.2018.Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tpe Snowball Trowing Terhadap HOTS Siswa Kelas V SD.Universitas Negeri Yogyakarta.Link diakses pada 17 Februari 2020.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar