MATERI IPA SD KELAS 4

Senin, 30 November 2020

PUISI 2

 

Cinta Dulu

Oleh : Fara Yuni S

 

Dulu

Kau bilang kita satu

Kau bilang percaya saja aku

 

Pamit untuk hal kebaikan

Kau janjikan untuk kembali

Waktu berganti

Ternyata kau berpaling

 

Janji yang kau umbar

Hanya puitis

Didepan mata beriringan jari

Dengan yang lain

 

Menangisku bukan karena terganti

Tapi karena pernah

Setengah mati

Pada sang pematah hati

RESUME JURNAL ARTIKEL

 MODEL PEMBELAJARAN YANG DAPAT MENINGKATKAN HOTS (HIGH ORDER THINKING SKILLS) PADA PEMBELAJARAN IPA RESUME JURNAL 

Disusun sebagai salah satu tugas Untuk memenuhi mata kuliah Pendidikan IPA 

Oleh Fara Yuni Sulistiyowati 

NIM 182180132 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO 2020 

A.PENDAHULUAN 

Penerapan kurikulum 2013 membawa konsekuensi adanya perubahan mendasar dalam kegitan belajar di kelas menjadi banyak opsi penilaian. Bukan hanya pennilaian dalam hal pengetahuan melainkan proses belajar belajar siswa aktif untuk mengembangkan aspek sikap, pengetahuan, dan kemampuan.Penilaian dilakukan oleh guru dari mulai awal semester hingga akhir semester jadi mulai dari proses belajar sampai akhir belajar (Tes/evaluasi). Dalam hal ini membahas tentang Ilmu Pengetahuan Alam yang sering disebut dengan istilah pendidikan sains atau sering disingkat IPA.Pelajaran ini terkadang masih dianggap sulit oleh beberapa siswa, sehingga masih banyak siswa yang terkadang malas karena sudah tersugesti atau menggap IPA adalah pelajaran yang sulit. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah masalah lemahnya pelaksanaan proses pembelajaran yang diterapkan para guru di sekolah. Proses pembelajaran yang terjadi selama ini kurang mampu mengembangkan Higher Order Thinking Skills atau yang dikenal dengan HOTS (kemampuan berpikir tingkat tinggi) peserta didik. Pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas hanya diarahkan pada kemampuan siswa untuk menghafal informasi, otak siswa dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diperoleh untuk menghubungkannya dengan situasi pendidikan saat ini. Masalah tersebut juga menjadi hambatan dari pembelajaran IPA atau sains pada saat ini.Guru lebih menekankan pada hafalan serta bila ada yaitu sedikit hitungan. Hal tersebut juga dapat membuat anak bosan serta memaksa untuk menghafal di dalam otaknya jika itu dibiarkan akan menimbulkan kejenuhan pada anak.Bahkan bisa membuat anak bingung dengan pelajaran tersebut karena hanya mengandalkan hafalan tanpa diselingi dengan metode belajar lain yang dapat membantu siswa memahami pelajaran. Hal lain yang menjadi kelemahan dalam pembelajaran IPA adalah masalah proses penilaian pembelajaran yang tidak akurat dan tidak menyeluruh. Proses penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata hanya menekankan pada penguasaan konsep yang dijaring dengan tes tulis objektif dan subjektif sebagai alat ukurnya. Dengan cara penilaian seperti ini berarti pengujian yang dilakukan oleh guru baru mengukur penguasaan materi saja dan itu pun hanya meliputi ranah kognitif tingkat rendah. Padahal pemerintah telah menetapkan penilaian sebagai salah satu dari delapan Standar Nasional Pendidikan dalam PP No. 23 tahun 2013 dan juga telah menetapkan sekaligus membahas penilaian oleh pendidik dalam Permendikbud No. 104 tahun 2014. High Order Thinking Skills (HOTS) adalah keterampilan berpikir siswa pada level kognitif yang lebih tinggi. Pada penelitian ini peneliti mengacu pada metode kognitif taksonomi Bloom yang sudah direvisi. Dalam taksonomi Bloom terdapat 6 domain kognitif, yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Kemampuan mengingat, memahami, dan mengaplikasikan termasuk ke dalam level kognitif rendah. Sedangkan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi. Pada umumnya yang sering diterapkan di Sekolah Dasar masih pada level kognitif rendah yaitu mengingat, memahami, dan mengaplikasikan. Sehingga materi pelajaran yang didapat siswa masih berupa hafalan, pemahaman, atau penerapan yang masih dalam konteks sempit. Siswa belum mengeksplore kemampuan untuk menganalisa, mengevaluasi informasi, dan menciptakan hal-hal baru dari informasi yang didapatnya. Dengan begitu, akan berdampak pada mutu pendidikan di Indonesia yang lebih rendah dibanding dengan negaranegara lain (Saputra, 2016: 106). Hal tersebut dapat dilihat pada data UNDP (United Nations Development Programe) mutu pendidikan Indonesia terkait literasi dasar khususnya matematika dan IPA (Sains) masih tertinggal dari negara-negara tetangga. Dalam laporan yang lebih rinci dapat dilihat dari OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) tentang PISA (Programe for International Student Assessment) yang mereka selenggarakan untuk mengukur mutu, ekuitas, dan efisiensi pendidikan di sekolah (Saputra, 2016: 86-87). Lembaga ini mengevaluasi sistem pendidikan di seluruh dunia. Setiap tiga tahun sekali menyelenggarakan tes dengan diikuti siswa dari sekolah yang diacak di seluruh dunia fokus mata pelajarannya membaca, matematika, dan sains. Pada penelitian ini peneliti fokus menerapkan High Order Thiking Skills (HOTS) pada mata pelajaran IPA. IPA merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan sebuah proses penemuan (Sujana, 2014: 4). Dengan begitu mata pelajaran IPA perlu diajarkan mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai perguruan tinggi (Sujana, 2014: 5). Ada berbagai alasan yang menyebabkan IPA dimasukkan ke dalam mata pelajaran di sekolah, antara lain (Usman 2006 dalam Sujana, 2014: 5) : (1) IPA merupakan dasar teknologi sehingga sering disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan; (2) IPA merupakan mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis; (3) IPA tidak hanya mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka; (4) IPA mempunyai nilainilai pendidikan yang tinggi, yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan. Pada assessment OECD terkait mata pelajaran IPA (sains) kompetensi yang diukur yaitu penyelidikan dan pengukuran proses ilmiah, mengidentifikasi isu-isu saintifik, menjelaskan fenomena ilmiah, dan bukti secara ilmiah. Kompetensi tersebut kompetensi yang masuk pada High Order Thiking Skills (HOTS) (Herlanti, 2014: 14). 

B.PEMBAHASAN 

HOTS ( High Order Thinking Skills ) High Order Thingking Skills merupakan suau proses berpikir peserta didik dalam level kognitif yang lebih tinggi yang dikembangkan dari berbagai konsep dan metode kognitif dan taksonomi pembelajaran seperti problem solvig, taksonomi bloom, dan taksonomi pembelajaran, dan penilaian (Saputra, 2016: 91). High order thinking skills ini meliputi di dalamnya kemampuan pemecahan masalah, berargumen berpikir kreatif, berpikir kritis, kemampuan berargumen, dan kemampuan mengambil keputusan. Menurut King, HOTS termasuk di dalamnya berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif, sedangkan menurut Newman dan Wehlage (Widodo, 2013: 162) dengan high order thinking skills peserta didik akan dapat membedakan ide atau gagasan secara jelas, berargumen dengan baik, mampu memecahkan maslah, mampu mengkontruksi penjelasan, mampu berhipotesis dan memahami hal-hal kompleks menjadi lebih jelas. Menurut Vui (Kurniati, 2014: 62) HOTS akan terjadi ketika seorang mengaitkan informasi baru dengan informasi yang sudah tersimpan di dalam ingatannya dan mengaitkannya dan/atau menata ulang serta mengembangkan informasi tersebut untuk mencapai suatu tujuan atau menemukan suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang sulit dipecahkan. Tujuan dari HOTS adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik pada level yang lebih tinggi, terutama yang berkaitan dengan kemampuan untuk berpikir secara kritis dalam menerima berbagai jenis informasi, berpikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah menggunakan pengetahuan yang dimiliki serta membuat keputusan dalam situasi-situasi yang kompleks (Saputra, 2016: 91-92). Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) IPA didefinisikan sebagai ilmu tentang alam yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan ilmu pengetahuan alam, dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu ilmu pengetahuan alam sebagai produk, proses, dan sikap (Susanto, 2012). IPA sebagai produk, yaitu kumpulan hasil penelitian yang telah ilmuwan lakukan dan sudah membentuk konsep yang telah dikaji sebagai kegiatan empiris dan kegiatan analitis. Bentuk IPA sebagai produk antara lain: fakta-fakta (pernyataan tentang benda-benda yang benar ada atau peristiwa-peristiwa yang benar terjadi, dan mudah dikonfirmasi secara objektif), konsep (ide yang mempersatukan konsepkonsep), prinsip (generalisasi tentang hubungan di antara konsepkonsep IPA), hukum-hukum alam (prinsip yang sudah ada meskipun bersifat tentatif tetapi karena ada pengujian yang berulang maka hokum alam bersifat kekal selama belum ada pembuktian yang lebih akurat dan logis, dan teori ilmiah (kerangka yang lebih luas dari faktafakta, konsep, prinsip yang saling berhubungan).IPA sebagai proses, yaitu untuk menggali dan memahami pengetahuan tentang alam. Proses dalam memahami IPA disebut kemampuan proses sains (science process skills) adalah kemampuan yang dilakukan oleh para ilmuwan, seperti mengamati (observasi), mengukur, mengklasifikasikan, menyimpulkan (inferensi). IPA sebagai sikap, Sikap ilmiah harus dikembangkan dalam pembelajaran sains. Sikap dalam pembelajaran IPA yang dimaksud ialah sikap ilmiah. Jadi, dengan pembelajaran IPA di sekolah dasar dapat menumbuhkan sikap ilmiah seperti seorang ilmuwan. Adapun jenis-jenis sikap yang dimaksud, yaitu: sikap ingin tahu, percaya diri, jujur, tidak tergesa-gesa dan objektif terhadap fakta. Menurut Sulistyorini, ada sembilan aspek yang dikembangkan dari sikap ilmiah dalam pembelajaran sains, yaitu: sikap ingin tahu, ingin mendapat sesuatu yang baru, sikap kerja sama, tidak putus asa, tidak berprasangka, mawas diri, bertanggung jawab. Berpikir bebas, dan kedisiplinan diri. Sikap ini dapat dikembangkan saat melakukan diskusi, percobaan, simulasi, dan kegiatan proyek di lapangan. Menurut Sulistyorini, ada sembilan aspek yang dikembangkan dari sikap ilmiah dalam pembelajaran sains, yaitu: sikap ingin tahu, ingin mendapat sesuatu yang baru, sikap kerja sama, tidak putus asa, tidak berprasangka, mawas diri, bertanggung jawab. Berpikir bebas, dan kedisiplinan diri. Sikap ini dapat dikembangkan saat melakukan diskusi, percobaan, simulasi, dan kegiatan proyek di lapangan. Kondisi ini menjadikan IPA salah satu ilmu pengetahuan yang wajib dikuasai sebagaimana dalam Undangundang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang telah jelas menguraikan bahwa IPA merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang wajib diajarkan kepada siswa sejak dini. Oleh karena itu perlu dikuasai dengan baik oleh siswa, terutama sejak usia sekolah dasar. Penyelenggaraan pendidikan pada jenjang sekolah dasar bertujuan memberikan bekal kepada siswa untuk hidup bermasyarakat dan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maka tujuan pembelajaran IPA di sekolah dimaksudkan agar dapat memberikan bekal kepada siswa dengan tekanan penataan nalar dalam penerapan IPA. Berdasarkan pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 dikatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Maka siswa dituntut mampu berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan suatu masalah. Untuk itu guru sejatinya mampu mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa menggunakan pembelajaran saintifik antara lain mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengolah informasi, menyajikan, menyimpulkan, dan mengomunikasikan. Pada penelitian ini, HOTS yang dimaksud peneliti dibatasi pada tahapan C4, C5, dan C6. Strategi pembelajaran merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran, sehingga akan memudahkan peserta didik mencapai tujuan yang dikuasai di akhir kegiatan belajar. Pemilihan strategi pembelajaran pada dasarnya merupakan salah satu hal penting yang harus dipahami oleh setiap guru, mengingat proses pembelajaran merupakan proses komunikasi multiarah antarsiswa, guru, dan lingkungan belajar. Karena itu pembelajaran harus diatur sedemikian rupa sehingga akan diperoleh dampak pembelajaran secara langsung (instructional effect) ke arah perubahan tingkah laku sebagaimana dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Peneliti memilih strategi pembelajaran konvensional dan inquiry sebagai variabel bebasnya. Strategi pembelajaran konvensional adalah strategi pembelajaran yang diterapkan oleh sekolah dalam kurun waktu yang lama dan bersifat tradisional dan berpusat pada guru (teacher centered) yang menyebabkan proses pembelajaran menjadi transfer of knowledge melalui penyampaian tujuan pembelajaran, pemberian informasi, tanya jawab, pemberian latihan, dan pemberian umpan balik kepada siswa. Strategi pembelajaran konvensional banyak diaplikasikan atau dipadupadankan dengan strategi pembelajaran lain yang dipakai oleh guru. Dalam hal ini dapat diamati kelebihan dan kekurangannya yaitu seperti tampak pada tabel berikut: Sedangkan strategi pembelajaran Inquiry adalah cara-cara yang dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar dalam menyampaikan materi pembelajaran untuk memenuhi rasa ingin tahu siswa melalui merumuskan masalah, mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, sampai mengambil keputusan sendiri. Motivasi Motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah lakuknya, berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu. Berkaitan dengan pengertian motivasi, beberapa psikolog menyebut motivasi sebagai konstruk hipotesis yang digunakan untuk menjelaskan keinginan, arah, intensitas, dan keajegan perilaku yang diarahkan oleh tujuan. Dalam motivasi tercakup konsepkonsep, seperti kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan berafiliasi, kebiasaan, dan keingintahuan seseorang terhadap sesuatu. Motivasi didorong kekuatan-kekuatan yang pada dasarnya dirangsang oleh adanya berbagai macam kebutuhan, seperti (1) keinginan yang hendak dipenuhinya; (2) tingkah laku; (3) tujuan; (4) umpan balik. Motivasi belajar merupakan salah satu faktor internal yang turut mempengaruhi hasil belajar siswa. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, sarana dan prasarana, lingkungan belajar yang kondusif, kegiatan belajar yang menarik, mendapat pujian, dan nilai bagus. Tetapi harus diingat, kedua faktor tersebut disebabkan oleh rangsangan tertentu, sehingga seseorang berkeinginan untuk melakukan aktivitas belajar yang lebih giat dan semangat, sehingga motivasi dalam diri siswa ini dapat diukur lemah atau kuat saat penerapan strategi pembelajaran IPA oleh guru di kelas. Di dalam pemberian motivasi, para pakar satu dengan lainnya hampir memiliki kesamaan. Mereka yang konsen menelaah pengaruh motivasi dalam berbagai kegiatan, antara lain Koontz , Weihrich, Gibson, Ivancevich, Donelly, dan Robbins. Menurut mereka pemberian motivasi pada seseorang merupakan suatu mata rantai yang dimulai dari kebutuhan, menimbulkan keinginan, menyebabkan tensi, menimbulkan tindakan, menghasilkan keputusan. METODE PENELITIAN Metode dalam penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen. Dengan menggunakan faktorial 2 x 2 yang menggunakan tiga variabel penelitian. Variabel terikat adalah Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam pembelajaran siswa, variabel bebas yaitu strategi pembelajaran berupa strategi inquiry (A1) dan strategi konvensional (A2), sedangkan variabel moderator adalah motivasi belajar yang terdiri darimotivasi belajar tinggi (B1) dan motivasi belajar rendah (B2). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (1) instrumen Higher Order Thinking Skills IPA berupa tes pilihan ganda, (2) instrumen motivasi belajar. Teknik analisa data menggunakan ANAVA dua jalur dan pengujian simple effect dengan uji t-dunnet. Pengujian normalitas dilakukan menggunakan Liliefors dan uji homogenitas dengan uji Barlett. HOTS dan Kaitannya dengan Keterampilan generik sains pembelajaran IPA SD Keterampilan generik sains mengajak peserta didik untuk dapat berpikir melalui sains dalam kehidupannya. Sesuai dengan tujuan dari high order thinking skills adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik pada level yang lebih tinggi, terutama yang berkaitan dengan kemampuan untuk berpikir secara kritis dalam menerima berbagai jenis informasi, berpikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah menggunakan pengetahuan yang dimiliki serta membuat keputusan dalam situasi-situasi yang kompleks (Saputra, 2016: 91-92). Berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir yang mengaitkan informasi yang baru dengan informasi dengan informasi yang telah didapatkan kemudian dihubungkan informasi tersebut untuk dapat menyelesaikan atau menemukan suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang akan dipecahkan (Slamet, 2011: 1). Melalui keterampilan generik sains peserta didik dapat mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Keterampilan generik sains mempunyai delapan indikator yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dapat mengaktifkan semua keterampilan yang ada di dalam high order thinking skills, termasuk di dalamnya yaitu berpikir kritis, logis, reflektif, metakognisi, dan kreatif. Terdapat empat konsep yang mendasari high order thinking skills yang salah satunya yaitu problem solving yang artinya sebuah proses dimana setiap individual menggunakan pengetahuan yang diperoleh, keterampilan, pemahaman yang kemudian digunakan dalam situasi baru. Menuju ke dalam situasi baru tersebut tentunya sangat membutuhkan adanya keterampilan generik sains. Hal tersebut di karenakan indikatorindikator yang ada dalam keterampilan sains akan membentuk peserta didik yang dapat berpikir kritis, berpikir kreatif, serta dapat mengambil sebuah keputusan berdasarkan pengetahuan dan informasi yang telah mereka pahami, di dalam proses penyelesaiannya pun akan menjadi lebih mudah. Peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi yang baik dan tingkat kecerdasan yang baik diharapkan akan memiliki keterampilan generik sains yang baik. Terdapat hubungan positif antara kemampuan berpikir tingkat tinggi dan tingkat kecerdasan secara simultan dengan keterampilan generik sains. Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan kompetensi kognitif tertinggi yang perlu dikuasai peserta didik dalam pembelajaran. Berpikir tingkat tinggi dapat dipandang sebagai kemampuan berpikir peserta didik untuk membandingkan dua atau lebih informasi. Bila terdapat perbedaan atau persamaan, maka ia akan mengajukan pertanyaan atau komentar dengan tujuan untuk mendapatkan penjelasan dan mengambil sebuah keputusan untuk menyelesaikan masalah yang ada di sekitarnya (Zohar & Dori, 2003). Berdasaran pemaparan tersebut, kemampuan berpikir tingkat tinggi atau high order thinking skills dan tingkat kecerdasan tinggi secara simultan dapat menunjang keterampilan generik sains yang dimiliki oleh peserta didik. 

C.KESIMPULAN Berdasarkan tahapan penelitian dan pengembangan yang dilalui kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 

1. Higher Order Thinking Skills (HOTS) IPA siswa pada kelompok yang diajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran inquiry lebih tinggi daripada siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran konvensional. 

2. Terdapatnya pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan motivasi belajar terhadap Higher Order Thinking Skills (HOTS) IPA siswa. 

3. Higher Order Thinking Skills (HOTS) IPA kelompok siswa dengan strategi Inquiry yang memiliki motivasi belajar tinggi lebih tinggi daripada kelompok siswa dengan strategi Konvensional yang memiliki motivasi belajar rendah. 

4. Higher Order Thinking Skills (HOTS) IPA antara kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar rendah yang diajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Kovensional lebih rendah daripada siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran Inquiry yang memiliki motivasi belajar rendah. 

D.Daftar Pustaka 

1.Irmawati, Retno Dewi dkk.2018.Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Motivasi Belajar Terhadap Higher Order Thinking Skill (HOTS) Dalam Pembelajaran IPA Siswa Kelas IV SEKOLAH DASARUniversitas Negeri Jakarta.Link di akses pada 17 Februari 2020. 

2. Wahyuningsih, Yuli dkk.2019.HOTS_IPA SD.Jurnal.Universitas Muhammadiyah Purworejo.Link diakses pada 17 Februari 2020. 

3. Yuliyanti.2018.Implementasi Model Discovery Learning Based On Experiment untuk Meningkatkan HOTS. Universitas Negeri Jakarta.Link diakses pada 17 Februari 2020. 

4. Ningrum, Vitria Oktavia dkk.2018.Pembelajaran IPA Berbasis CLIS Terhadap Berfikir Kritis Siswa. Universitas Negeri Yogyakarta.Link diakses pada 17 Februari 2020. 

5. Hutabarat, Rasmi.2019.Peningkatan HOTS Pada Pembelajaran Sifat dan Perubahan Wujud Benda Melalui Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (TM) Kelas IV SD Negeri 167959 Kota Tebing Tinggi Tahun Pelajaran 2017/2018. SD NEGERI 16795.Kota Tebing Tinggi.Link diakses pada 17 Februari 2020. 

6. Dewi, Peronika.2018. CHARACTER INTEGRATION AND HIGH OTHER THINKING SKILL (HOTS) IN SCINCE LEARNING AS AN IMPROVE LEARNING.Universitas Riau.Link diakses pada 17 Februari 2020. 

7. Asdiana.2015. HIGH ORDER THINKING PADA PEMBELAJARAN IPA MELALUI TEKNIK MAKE - A MATCH DI SEKOLAH DASAR. Sekolah Dasar 01 Sayap.Link diakses pada 17 Februari 2020. 

8. Agustin,Nia.2018.Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tpe Snowball Trowing Terhadap HOTS Siswa Kelas V SD.Universitas Negeri Yogyakarta.Link diakses pada 17 Februari 2020.

ARTIKEL

 

PERUBAHAN  PADA DIRI  REMAJA

Masa remaja  adalah suatu titik kritis dalam perkembangan manusia .Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan  yang belum  pernah dialami pada masa sebelumnya.

Pertumbuan dan perkembangan pada masa remaja akan berlangsung dengan cepat ,tetapi laju pertumbuan ini berbeda-beda pada setiap individu. Perubahan fisik  seringkali menimbulkan kerisuan bagi remaja .Kerisuan tersebut  dapat muncul dalam berbagai bentuk tingkah laku ,seperti tidak mau sekolah karena malu memiliki jerawat ,dan lain -lain .

            Dalam setiap rentang perkembangan  manusia  pasti ada  yang namanya perubahan .Seperti halnya diri kita yang memasuki dunia remaja ,kini telah mengalami banyak perubahan dari masa sebelumnya yaitu anak-anak .Secara sederhana ,perubahan tersebut bisa dilihat dari  segi  fisik dan psikis (mental).      

1.  Ciri Perubahan Fisik pada Masa Remaja    

a.       Peningkatan aktivitas kelenjar pituitari(hipofisis).  

b.      Tinggi dan berat badan meningkat.        

c.       Pertumbuan tinggi badan dan berat badan yang pesat , hampir 2kali lipat .    

d.      Pada anak pria bahu menjadi lebar,sedangkan pada anak perempuan pinggulnya yang melebar

e.      e.Tulang dan otot bertambah besar.     

f.        f.Jaringan lemak bawah kulit bertambah .    

g.       g.Alat genital juga tumbuh dengan cepat .              

2.  Ciri Perubahan  Psikis pada Masa Remaja .  

a.         Mudah  mengalami  kegelisahan ,tidak sabar ,emosional ,selalu ingin melawal,rasa malas ,perbahan dalam keinginan ,ingin menunjukkan eksistensi  dan kebanggaan diri serta selalu ingin mencoba dalam banyak hal.     

b.        Kesukaran yang dialami timbul akibat konflik karena keinginannya menjadi dewasa dan berdiri sendiri dan keinginanakan perasaan aman sebagai seorang anak dalam keluarganya.   

c.         Ia sering berlaku seperti seorang anak tetapi ingin diperlakukan sebagai seorang dewasa

d.        Banyak mengalami tekanan mental dan emosi .     

e.        Mulai muncul rasa ingin dikasihi dan disayangi,termasuk ketertarikan terhadap lawan jenis .

ARTIKEL

 

Langkah-Langkah Membuat Brosur di Microsoft Publisher

 

Kali ini saya akan sedikit berbagi mengenai langkah-langkah pembuatan brosur di Microsoft Publisher 2010. Sebenarnya bukan hanya brosur saja, melainkan banyak pilihan seperti flyer, sertifikat, banner dan lain-lain yang bisa kita buat di Microsoft Publisher. 

 

1.      Langkah Pertama


Untuk memulai pembuatan Brosur, langkah pertama buka Microsoft Publisher dengan cara klik Start – All Program – Microsoft Office – Microsoft Publisher – Enter.

 

Nanti akan keluar tampilan seperti ini :

 

Description: IMG_256

 

Kemudian Klik Brochures – Enter

 

Description: IMG_257

 

 

2.      Langkah Kedua


Selanjutnya pilih kategori brosur sesuai keinginan dan keperluan yang diinginkan. Pilih design yang menarik agar banyak peminat. Misalnya seperti contoh Tilt – Create.

 

 

Description: IMG_258

 

 

Tampilan pada lembar kerja Microsoft Publisher :

 

Description: IMG_259

 

Disini ada dua halaman, halaman pertama untuk brosur bagian luar dan halaman kedua untuk brosur halaman dalam. Brosur ini adalah halaman lipat 3, seperti brosur pada umumnya.

 

3.      Langkah Ketiga

 

Kosongkan kolom-kolom yang ada di slide brosur tersebut untuk mempermudah proses pengisian brosur.

Untuk slide pertama, seperti tampilan di bawah ini : 

 

Description: IMG_260

 

 Untuk yang slide kedua kosongkan kolom-kolomnya, akan tetapi format desainnya biarkan seperti semula. Seperti contoh :

 

Description: IMG_261

 

 

Agar kelihatan menarik, edit dan ubahlah tampilan dari pola yang telah ada. Untuk format desain pada slide kedua copy di slide pertama dan sesuaikan dengan besar brosur yang akan dibuat.

 

Description: IMG_262

 

 

4.      Langkah Keempat

 

Buat semenarik mungkin dengan menambahkan tulisan, gambar, maupun tema-tema yang ada pada template brosur yang dipilih. Design yang menarik agar mengangkat minat pembaca.


Untuk memasukkan teks ke dalam slide brosur, caranya dengan Klik Draw Text Box – Enter.

Buatlah kotak sesuai dengan kebutuhan.

 

Description: IMG_263

 

 

Sedangkan untuk memasukkan gambar, caranya pun cukup mudah. Dengan cara Klik Insert – Picture – Pilih gambar yang akan dipakai – Lalu Tekan Insert.

 

 

Description: IMG_264

 

Kemudian atur format gambar sesuai dengan keinginan, dengan cara Klik Gambar -  Nanti akan keluar Picture Tool – dan pilih format gambar yang diingankan.

 

Description: IMG_265

 

5.      Langkah Kelima


Slide Pertama

 

Untuk slide pertama, masukkan butiran seperti sejarah instansi, tujuan instansi, struktur organisasi maupun nama-nama instansi beserta logo dari instansi yang akan dibuat tersebut. Atau bisa juga bisa diisi sesuai dengan kebutuhan brosur yang akan dibuat.

Contoh :

 

Description: IMG_266

 

 

Setelah semua sudah terisi lengkap sesuai dengan kebutuhan, langkah selanjutnya yakni atur format design dengan cara Klik Page Desain –Schemes - Pilih tema yang diinginkan. 

 

Description: IMG_267

 

Kemudian atur warna background semenarik mungkin, dengan cara Klik Page Desain - Background – Pilih sesuai keinginan masing-masing.

 

Description: IMG_268

 

Contoh untuk tampilan pada slide pertama :

 

 

Description: IMG_269

 

Slide Kedua

 

Langkah-langkahnya pun hampir sama dengan slide yang pertama hanya saja pada slide kedua ini tidak perlu mengubah tema lagi, karena tema yang dipilih di slide awal akan mengubah juga di slide kedua.

 

Untuk slide kedua ini, bisa diisi beberapa butiran seperti foto kegiatan instansi, fasilitas-fasilitas yang ada di instansi, serta visi dan misi yang ada di instansi tersebut. Atau bisa juga dikreasikan sesuai dengan kebutuhan brosur.

 

Seperti contoh :

 

Description: IMG_270

 

 

Untuk mendesign lembar kerja brosur, caranya pun sama dengan slide pertama, dengan cara Klik Page Desain – Schemes – dan pilih sesuai selera masing-masing. 

 

Description: IMG_271

 

 

Atur background semenarik mungkin untuk mendukung tampilan brosur yang akan dipromosikan dengan cara Klik Page Desain – Background – Dan pilih sesuai selera.

 

Description: IMG_272

 

Seperti contoh tampilan pada slide kedua :

 

 

Description: IMG_273

 

 

 

6.      Langkah Keenam

 

Langkah Keenam adalah langkah terakhir, yakni proses penyimpanan. Setelah semua tahap-tahap telah usai dan telah diperiksa kembali struktur, desain, dan tatanannya. Barulah kita simpan dengan cara Klik Save.

 

Description: IMG_274

 

 

Hasil Akhir Brosurnya :

Description: IMG_275

 

 

Demikian langkah-langkah sederhana dalam pembuatan brosur di Microsoft Publisher 2010. Semoga bermanfaat

 

ARTIKEL

 

ALAT PENDETEKSI KERETAKAN JALAN

oleh : Fara Yuni S

 

 

Latar Belakang

Esai merupakan karya tulis yang dibuat berdasarkan gagasan atau ide penulis.Menulis esai dalam bahasa Indonesia membutuhkan kemampuan untuk memilih kata dan tata bahasa yang sesuai aturan.Bahasa,juga termasuk juga  dalam penulisan,mencerminkan pola pikir penulis.Maka dari itu,untuk menulis dengan baik dan benar,penting bagi penulis untuk memahami pola pikir penutur asli bahasa yang digunakan.Tidak jarang esai yang dibuat masih kurang dalam tata bahsa yang baik dan benar sesuai dengan aturan.Maka dari itu harus diperhatikan dengan benar bagaimana cara penulisan yang benar sesuai aturan.

Isi

Ide saya yaitu dengan membuat alat pendeteksi layak atau tidak jalan itu dilewati oleh kendaraan,baik kendaraan roda empat atau roda dua.Jadi alat tersebut bisa mendeteksi kapan jalan tersebut bisa diganti atau diperbaiki tanpa harus menunggu jalan tersebut rusak parah.Cara kerja alat tersebut adalah ditanam di tanah dan disambungkan seperti gelombang ke kantor terdekat yang bertanggung jawab.Setelah itu diteruskan ke kantor pusat untuk ditindaklanjuti secara cepat,agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.Alat tersebut juga dilengkapi seperti tiga peringatan yaitu awal,tengah,dan akhir,maksudnya kerusakan yang kecil,sedang,ataupun parah.Dengan peringatan tersebut alat bisa mendeteksi mana kendaraan yang boleh dan tidak melewati jalan tersebut.

Jika terbukti tidak patuh akan ada sirine peringatan yang berbeda supaya pengendara tahu kalau jalan itu tidak boleh dilewati kendaraan jenis tersebut.Alat ini bertenaga dari panas matahari dari panas yang aspal saat musim kemarau sedangkan jika musim penghujan bertenaga aliran listrik yang berasal dari sumber listrik di daerah tersebut.Saat musim panas kabel tersebut tetap berfungsi sebagai penghantarpanas dari aspal,sedangkan saat musim hujan berfungsi sebagai alat penghantar listrik jadi kabel tersebut memiliki dua utas kabel yaitu memiliki fungsi yang berbeda sesuai dengan musim apa yang sedang terjadi.Kabel dioperasikan oleh operator mana yang harus digunakan dan mana yang harus dimatikan sesuai fungsinya.

 

Kesimpulan

Alat tersebut bisa membantu para petugas dinas perhubungan dan mengurangi resiko kecelakaan yang disebabkan oleh jalan yang rusak.Serta bisa meningkatkan kualitas jalan di Indonesia,karena kerusakan bisa di deteksi lebih dini oleh pihak yang terkait.Dan juga pemerintah lebih bisa memantau keadaan jalan tanpa harus meninjau langsung karena sudah ada data dan juga rekaman bagaimana kondisi jalan tersebut,harus diperbaiki atau masih layak untuk dilewati para pengendara.   

Materi Pemebelajaran IPA SD

Memahami hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan,teknologi,dan masyarakat