Cerita
anak
Oleh
:
Fara
Yuni Sulistiyowati
Pak
Purwo dan Bu Rejo
Di suatu desa hiduplah seorang petani yang sangat baik
hati.Petani itu bernama Pak Purwo.Pak Purwo mempunyai istri yang bernama Bu
Rejo.Pak Purwo dan Bu Rejo Sudah menikah hampir 20 tahun,tapi mereka belum juga
dikaruniai buah hati.Bertahun-tahun hidup tanpa buah hati membuat mereka
sedih,untuk menghibur kesedihan mereka,lalu Pak Purwo membeli sebuah kambing
etawa di Pasar untuk di peliharanya. Kambing itu bernama Kawa,yaitu diambil dari
kata “Kambing Etawa”. Pak Purwo sangat menyayangi Kawa. Setiap hari Pak Purwo
selalu memberi makan Kwa dengan rumput segar yang ia ambil setelah ia dari
sawah. Kawa senang sekali jika dibawakan rumput oleh majikanya. Kawa sangat
suka rumput ilalang yang hijau yang masih segar karena baru saja di potong,
bahkan terkadang Pak Purwo sering memberi vitamin pada Kawa berupa madu yang di
campurkan pada air yang akan di minum oleh Kawa. Pada sore hari kawa biasanya
di ajak oleh Pak Purwo untuk ketanah lapang, ditanah lapang ini lah Pak Purwo sering bercerita bagaimana ia
merasakan kehidupan ini.
Pak Purwo : “ Kawa,umurku sudah 40 lebih,aku menikah
dengan istriku sudah hampir 20 tahun tapi belum juga diberikan
momongan,berbagai cara sudah kucoba.Semua yang orang saran kan pun sudah aku
lakukan,tapi….tetap saja tetap saja tidak berhasil.” Ungkap Pak Purwo dengan
raut wajah muram.
Kawa : “ Ehmmmm,ia tuan aku juga sering melihatmu serta
istrimu menangis sedih karena belum juga diberikan momongan,tapi tenang saja pasti
ada cara lain,bersabarlah tuhan pasti akan mengabulkan doamu.” Kata kawa.
Pak Purwo : “ Iya saya tau,tapi sudah
bertahun-tahun saya memohon kepada tuhan agar diberikan momongan,tapi apa
hasilnya ? sampai saat ini pun belum juga dikaruniai buah hati.”
Kawa : “ Bersabarlah saja, semua orang pasti mempunyai
ujianya masing-masing. Bersyukurlah kau masih dberi kekuatan untuk menjalani
hidup ini, jangan pernah salahakan takdir tuan,yakinlah semua akan indah pada
waktunya.” Ujar kawa
Pak Purwo : “ Baik Kawa terimakasih atas saranmu,kau
memang sahabat terbaiku,tak menyesal aku membelimu,baik aku bersabar yang
penting aku sudah berusaha.” Ungkap Pak Purwo
Kawa : “Baik tuan,aku akan selalu disampingmu dan
menemanimu sebagai pendengar ceritamu.” Ujar Si Kawa.
Setelah Kawa makan rumput di tanah lapang dan Pak Purwo
sudah bercerita dan tak muram sedih lagi mereka pun pulang karena hari sudah
mulai gelap. Pak Purwo lalu membawa Kawa
masuk ke kandangnya. Setelah itu Pak Purwo masuk ke dalam rumah, didalam rumah
sudah sudah ada Bu Rejo yang sedang memasak di dapur.
Pak Purwo : “Assalamualaiku ibu.” Salam Pak Purwo.
Bu Rejo : “ Walaikumsalam,Pak.Baru pulang Pak ?
makan dahulu pak,ini sudah mau matang masakan ibu, ibu masak kesukaan bapak,
gulai ikan kesukaan bapak.Mandi lalu kita makan sama-sama pak.” Ajak Bu Rejo.
Pak Purwo : “ Iya bu, bapak mandi dulu lalu kita makan
bersama.” Jawab Pak Purwo
Bu Rejo : “ Iya pak,saya tunggu sembari menyiapakan
makanan di meja makan.” Saut Bu Rejo.
Setelah Pak Purwo mandi dan berganti pakaian,Pak Purwo dan
Bu Rejo makan bersama.Pak Purwo dab Bu Rejo makan dengan lahap dengan menu
gulai ikan yang sudah dimasak tadi.Makan pun selesai.Bu Rejo membereskan bekas
makan tadi sedangkan Pak Purwo duduk di ruang tamu. Pak Purwo duduk dengan
menghadap luar. Bu Rejo duduk di samping Pak Purwo sambil menaruh kopi di meja
di depan Pak Purwo.
Bu Rejo : “ Ini Pak kopinya,silakan diminum pumping
masih hangat.” Sambil menaruh kopi di meja.
Pak Purwo : “ Iya bu,terimakasih.” Sahut Pak Purwo.
Bu Rejo : “ Pak,ibu lihat muka bapak terlihat pucat
? Bapak sakit ? “ Tanya Bu Rejo
Pak Purwo : “ Tidak bu,Bapak tidak apa-apa.” Jawab Pak
Purwo
Bu Rejo : “ Jangan berbohong Pak, muka Bapak pucat
dan juga tampak lemas,makanpun tadi juga tidak habis seperti biasanya,padahal
itu menu makanan yang sangat bapak suka.” Tanya Bu Rejo lagi pada Pak Purwo.
Pak Purwo : “ Iya bu,sebenarnya bapak tidak tahu juga
bapak sakit apa,yang bapak rasakan hanya pusing dan badan bapak terasa lemas
serta nafsu makan bapak juga berkurang.”
Bu Rejo : “ Yang membuat bapak seperti apa ? bapak
memikirkan apa ? atau ada yang menyakiti bapak lalu bapak jadi sakit seperti
ini ?.”
Pak Purwo : “ Tidak bu,tiba-tiba saja bapak merasa
seperti ini.” Jawab Pak Purwo
Bu Rejo : “ Ya sudah kalau begitu lebih baik bapak
istirahat saja,daripada nanti tambah parah, kurang baik ini angin malamnya bagi
kesehatan bapak.Ayo pak istirahat saja.”
Pak Purwo : “ Tapi bapak masih ingin disini bu”
Bu Rejo : “ Sudah Pak,ini sudah malam,bapak kan
sedang tidak enak bapak,sudah sudah nurut kata ibu,ayo istirahat saja.”
Pak Purwo : “ Iya bu.” Jawab Pak Purwo
Pak Purwo dan Bu Rejo pun istirahat.Malam yang penuh bulan
mereka beristirahat dengan lelap.Lelah yang mereka dapat seharian terbayar
dengan tidur lelap serta membawa mimpi dan harapan yang indah di keesokan
harinya.Malam pun berganti pagi,setelah bulan menampakkan diri di sunyinya
malam,sekarang tugas matahari untuk membangunkan umat manusia dan seluruh
komponen bumi untuk beraktivitas.Pak Purwo dan Bu Rejo bangun dan menjalankan
aktivitas seperti biasa.Pak Purwo ke sawah dan Bu Rejo kebun.Merekapun membawa
alat kerja masing-masing.Setelah beberapa saat di kebun Bu Rejo tiba-tiba
mendengar ada orang yang memanggil namanya,yaitu Mbok Minah.
Mbok Minah : “ Bu Rejo,Bu Rejo……..”Panggil Mbok
Minah.
Bu Rejo : “ Iya Mbok,ada apa teriak-teriak begitu.”
Mbok Minah : “ Ehmmm,itu..itu….Pak…Pak…Pak Purwo.”
Bu Rejo : “ Iya Pak Purwo kenapa,ada apa dengan
suami saya Mbok ?.”
Mbok Minah : “ Pak Purwo pingsan Bu,tadi jatuh waktu
mau pulang dari sawah.”
Bu Rejo : “ Astaga,Bapak…………” Teriak bu rejo
Bu Rejo pun langsung berlari dan menemui
suaminya.Sesampainya di sawah sudah banyak orang yang mengerumuni Pak Purwo
yang sudah setengah sadar karena sudah di tolong oleh para warga sekitar yang
juga masih berada di sawah.Sesudah sadar,Pak Purwo pun diantar pulang oleh
warga.
Bu Rejo : “ Sudah diantar pulang saja,saya takut
ada apa-apa kalau disini terus.”
Warga : “ Iya bu,kami akan bawa Pak Purwo ke rumah
saja,kami akan batu.”
Bu Rejo : “ Terimakasih,maaf merepotkan>”
Warga : “ Tidak bu,tidak sama sekali,kami senang membantu
tetangga kami sendiri.”
Bu Rejo : “ Sekali lagi terimaksih atas kebaikan
kalian.”
Warga : “ Iya Bu,sama-sama”
Setelah itu warga membantu Pak Purwo untuk bangun dan
kembali ke rumah untuk beristirahat.Warga pun kembali ke rumah masing-masing
setelah mengantar Pak Purwo pulang.
Bu Rejo : “ Bapak kenapa yidak bilang kalau bapak
tidak kuat ke sawah ?”
Pak Purwo : “ Tadi pagi bapak merasa sudah mendingan lalu
bapak ke sawah saja,tapi entah kenapa waktu sampai sawah kepala bapak pusing
sekali,saat bapak akan pulang tiba-tiba sudah banyak orang di sekeliling bapak
dan bapak sudah tergeletak.Begitu bu.”
Bu Rejo : “ Ya sudah sekarang istirahat saja,besok
ibu panggilkan tabib untuk menyembuhkan bapak.”
Pak Purwo : “ Iya bu.”
Bu Rejo : “ Yasudah,ibu tinggal dahulu.”
Keesokan harinya,Bu Rejo menyuruh Kawa untuk memanggil
tabib untuk menyembuhkan Pak Purwo.Tabib itu berada di seberang desa.Bu Rejo
tidak mungkin kesana karena nanti jika ia pergi maka siapa yang akan menjaga
Pak Purwo.
Bu Rejo : “ Kawa,Kawa……kesini sebentar.”
Kawa : “ Iya,ada apa bu?”
Bu Rejo : “ Saya boleh minta tolong sama kamu ?.”
Kawa : “ Minta tolong apa ya bu?.”
Bu Rejo : “ Bantu ibu untuk memanggilkan tabib di
seberang desa untuk mengobati bapak.Soalnya kalau ibu yang pergi kesana siapa
yang menjaga bapak.”
Kawa : “ Baik bu.”
Bu Rejo : “ Bisa tidak,sungguh kamu bersedia?.”
Kawa : “ Ya Bu.Saya bersedia demi kesembuhan bapak.”
Bu Rejo : “ Terimakasih Kawa”
Kawa : “ Baiklah bu,saya langsung berangkat saja.Takut
nanti terlalu malam kembali lagi kerumah.”
Bu Rejo : “ Baiklah,ambilah ini sebagai bekal,aku
taruh di punggungmu.Persediaan makanmu aku taruh di tas,bila kau lapar
berhentilah untuk makan dan beristirahat.”
Kawa : “ Terimakasih bu atas bekalnya.Nanti pasti saya
makan.”
Bu Rejo : “ Iya sama-sama”
Kawa : “ Saya berangkat dulu bu,doakan saya selamat
sampai rumah lagi.”
Bu Rejo : “ Iya Kawa hati-hati dijalan.”
Kawa pun berjalan menyusuri hutan untuk ketempat tabib yang
berada di desa sebelah.Setelah sekian lama ia berjalan,ia berhenti sejenak
untuk istirahat dan makan,kemudian ia kembali lagi menju ke rumah tabib
tersebut.Pada akhirnya ia sampai dan bertemy tabib tersebut.Kawa pun mengajak
tabib tersebut ke rumah Pak Purwo,sebelumnya ia menceritakan apa yang dialami
Pak Purwo.Sang tabib pun berjalan bersama Kawa sambil membawa obat untuk Pak
Purwo.Sesampainya mereka di rumah Pak Purwo,tabib pun mengobati Pak Purwo serta
memberikanya obat ramuan yang dapat menyembuhkan penyakitnya.Beberapa hari
kemudian pun Pak Purwo kembali sehat dan beraktifitas seperti biasa.Tahun
berganti tahun Pak Purwo dan Bu Rejo yang sudah lama tidak memiliki buah hati
akhirnya dikaruniai buah hati.Betapa bahagianya mereka dan Kawa pun ikut
bahagia melihatnya,lalu mereka hidup bahagia selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar