MATERI IPA SD KELAS 4

Senin, 30 November 2020

Cerita Anak

 

Cerita anak

Oleh :

Fara Yuni Sulistiyowati

 

Pak Purwo dan Bu Rejo

 

          Di suatu desa hiduplah seorang petani yang sangat baik hati.Petani itu bernama Pak Purwo.Pak Purwo mempunyai istri yang bernama Bu Rejo.Pak Purwo dan Bu Rejo Sudah menikah hampir 20 tahun,tapi mereka belum juga dikaruniai buah hati.Bertahun-tahun hidup tanpa buah hati membuat mereka sedih,untuk menghibur kesedihan mereka,lalu Pak Purwo membeli sebuah kambing etawa di Pasar untuk di peliharanya. Kambing itu bernama Kawa,yaitu diambil dari kata “Kambing Etawa”. Pak Purwo sangat menyayangi Kawa. Setiap hari Pak Purwo selalu memberi makan Kwa dengan rumput segar yang ia ambil setelah ia dari sawah. Kawa senang sekali jika dibawakan rumput oleh majikanya. Kawa sangat suka rumput ilalang yang hijau yang masih segar karena baru saja di potong, bahkan terkadang Pak Purwo sering memberi vitamin pada Kawa berupa madu yang di campurkan pada air yang akan di minum oleh Kawa. Pada sore hari kawa biasanya di ajak oleh Pak Purwo untuk ketanah lapang, ditanah lapang ini lah  Pak Purwo sering bercerita bagaimana ia merasakan kehidupan ini.

Pak Purwo : “ Kawa,umurku sudah 40 lebih,aku menikah dengan istriku sudah hampir 20 tahun tapi belum juga diberikan momongan,berbagai cara sudah kucoba.Semua yang orang saran kan pun sudah aku lakukan,tapi….tetap saja tetap saja tidak berhasil.” Ungkap Pak Purwo dengan raut wajah muram.

Kawa                   : “ Ehmmmm,ia tuan aku juga sering melihatmu serta istrimu menangis sedih karena belum juga diberikan momongan,tapi tenang saja pasti ada cara lain,bersabarlah tuhan pasti akan mengabulkan doamu.” Kata kawa.

Pak Purwo          : “ Iya saya tau,tapi sudah bertahun-tahun saya memohon kepada tuhan agar diberikan momongan,tapi apa hasilnya ? sampai saat ini pun belum juga dikaruniai buah hati.”

Kawa                   : “ Bersabarlah saja, semua orang pasti mempunyai ujianya masing-masing. Bersyukurlah kau masih dberi kekuatan untuk menjalani hidup ini, jangan pernah salahakan takdir tuan,yakinlah semua akan indah pada waktunya.” Ujar kawa

Pak Purwo : “ Baik Kawa terimakasih atas saranmu,kau memang sahabat terbaiku,tak menyesal aku membelimu,baik aku bersabar yang penting aku sudah berusaha.” Ungkap Pak Purwo

Kawa                   : “Baik tuan,aku akan selalu disampingmu dan menemanimu sebagai pendengar ceritamu.” Ujar Si Kawa.

          Setelah Kawa makan rumput di tanah lapang dan Pak Purwo sudah bercerita dan tak muram sedih lagi mereka pun pulang karena hari sudah mulai gelap. Pak Purwo lalu  membawa Kawa masuk ke kandangnya. Setelah itu Pak Purwo masuk ke dalam rumah, didalam rumah sudah sudah ada Bu Rejo yang sedang memasak di dapur.

Pak Purwo : “Assalamualaiku ibu.” Salam Pak Purwo.

Bu Rejo     : “ Walaikumsalam,Pak.Baru pulang Pak ? makan dahulu pak,ini sudah mau matang masakan ibu, ibu masak kesukaan bapak, gulai ikan kesukaan bapak.Mandi lalu kita makan sama-sama pak.” Ajak Bu Rejo.

Pak Purwo : “ Iya bu, bapak mandi dulu lalu kita makan bersama.” Jawab Pak Purwo

Bu Rejo     : “ Iya pak,saya tunggu sembari menyiapakan makanan di meja makan.” Saut Bu Rejo.

          Setelah Pak Purwo mandi dan berganti pakaian,Pak Purwo dan Bu Rejo makan bersama.Pak Purwo dab Bu Rejo makan dengan lahap dengan menu gulai ikan yang sudah dimasak tadi.Makan pun selesai.Bu Rejo membereskan bekas makan tadi sedangkan Pak Purwo duduk di ruang tamu. Pak Purwo duduk dengan menghadap luar. Bu Rejo duduk di samping Pak Purwo sambil menaruh kopi di meja di depan Pak Purwo.

Bu Rejo     : “ Ini Pak kopinya,silakan diminum pumping masih hangat.” Sambil menaruh kopi di meja.

Pak Purwo : “ Iya bu,terimakasih.” Sahut Pak Purwo.

Bu Rejo     : “ Pak,ibu lihat muka bapak terlihat pucat ? Bapak sakit ? “ Tanya Bu Rejo

Pak Purwo : “ Tidak bu,Bapak tidak apa-apa.” Jawab Pak Purwo

Bu Rejo     : “ Jangan berbohong Pak, muka Bapak pucat dan juga tampak lemas,makanpun tadi juga tidak habis seperti biasanya,padahal itu menu makanan yang sangat bapak suka.” Tanya Bu Rejo lagi pada Pak Purwo.

Pak Purwo : “ Iya bu,sebenarnya bapak tidak tahu juga bapak sakit apa,yang bapak rasakan hanya pusing dan badan bapak terasa lemas serta nafsu makan bapak juga berkurang.”

Bu Rejo     : “ Yang membuat bapak seperti apa ? bapak memikirkan apa ? atau ada yang menyakiti bapak lalu bapak jadi sakit seperti ini ?.”

Pak Purwo : “ Tidak bu,tiba-tiba saja bapak merasa seperti ini.” Jawab Pak Purwo

Bu Rejo     : “ Ya sudah kalau begitu lebih baik bapak istirahat saja,daripada nanti tambah parah, kurang baik ini angin malamnya bagi kesehatan bapak.Ayo pak istirahat saja.”

Pak Purwo : “ Tapi bapak masih ingin disini bu”

Bu Rejo     : “ Sudah Pak,ini sudah malam,bapak kan sedang tidak enak bapak,sudah sudah nurut kata ibu,ayo istirahat saja.”

Pak Purwo : “ Iya bu.” Jawab Pak Purwo

          Pak Purwo dan Bu Rejo pun istirahat.Malam yang penuh bulan mereka beristirahat dengan lelap.Lelah yang mereka dapat seharian terbayar dengan tidur lelap serta membawa mimpi dan harapan yang indah di keesokan harinya.Malam pun berganti pagi,setelah bulan menampakkan diri di sunyinya malam,sekarang tugas matahari untuk membangunkan umat manusia dan seluruh komponen bumi untuk beraktivitas.Pak Purwo dan Bu Rejo bangun dan menjalankan aktivitas seperti biasa.Pak Purwo ke sawah dan Bu Rejo kebun.Merekapun membawa alat kerja masing-masing.Setelah beberapa saat di kebun Bu Rejo tiba-tiba mendengar ada orang yang memanggil namanya,yaitu Mbok Minah.

Mbok Minah        : “ Bu Rejo,Bu Rejo……..”Panggil Mbok Minah.

Bu Rejo     : “ Iya Mbok,ada apa teriak-teriak begitu.”

Mbok Minah        : “ Ehmmm,itu..itu….Pak…Pak…Pak Purwo.”

Bu Rejo     : “ Iya Pak Purwo kenapa,ada apa dengan suami saya Mbok ?.”

Mbok Minah        : “ Pak Purwo pingsan Bu,tadi jatuh waktu mau pulang dari sawah.”

Bu Rejo     : “ Astaga,Bapak…………” Teriak bu rejo

          Bu Rejo pun langsung berlari dan menemui suaminya.Sesampainya di sawah sudah banyak orang yang mengerumuni Pak Purwo yang sudah setengah sadar karena sudah di tolong oleh para warga sekitar yang juga masih berada di sawah.Sesudah sadar,Pak Purwo pun diantar pulang oleh warga.

Bu Rejo     : “ Sudah diantar pulang saja,saya takut ada apa-apa kalau disini terus.”

Warga                 : “ Iya bu,kami akan bawa Pak Purwo ke rumah saja,kami akan batu.”

Bu Rejo     : “ Terimakasih,maaf merepotkan>”

Warga                 : “ Tidak bu,tidak sama sekali,kami senang membantu tetangga kami sendiri.”

Bu Rejo     : “ Sekali lagi terimaksih atas kebaikan kalian.”

Warga                 : “ Iya Bu,sama-sama”

          Setelah itu warga membantu Pak Purwo untuk bangun dan kembali ke rumah untuk beristirahat.Warga pun kembali ke rumah masing-masing setelah mengantar Pak Purwo pulang.

Bu Rejo     : “ Bapak kenapa yidak bilang kalau bapak tidak kuat ke sawah ?”

Pak Purwo : “ Tadi pagi bapak merasa sudah mendingan lalu bapak ke sawah saja,tapi entah kenapa waktu sampai sawah kepala bapak pusing sekali,saat bapak akan pulang tiba-tiba sudah banyak orang di sekeliling bapak dan bapak sudah tergeletak.Begitu bu.”

Bu Rejo     : “ Ya sudah sekarang istirahat saja,besok ibu panggilkan tabib untuk menyembuhkan bapak.”

Pak Purwo : “ Iya bu.”

Bu Rejo     : “ Yasudah,ibu tinggal dahulu.”

          Keesokan harinya,Bu Rejo menyuruh Kawa untuk memanggil tabib untuk menyembuhkan Pak Purwo.Tabib itu berada di seberang desa.Bu Rejo tidak mungkin kesana karena nanti jika ia pergi maka siapa yang akan menjaga Pak Purwo.

Bu Rejo     : “ Kawa,Kawa……kesini sebentar.”

Kawa                   : “ Iya,ada apa bu?”

Bu Rejo     : “ Saya boleh minta tolong sama kamu ?.”

Kawa                   : “ Minta tolong apa ya bu?.”

Bu Rejo     : “ Bantu ibu untuk memanggilkan tabib di seberang desa untuk mengobati bapak.Soalnya kalau ibu yang pergi kesana siapa yang menjaga bapak.”

Kawa                   : “ Baik bu.”

Bu Rejo     : “ Bisa tidak,sungguh kamu bersedia?.”

Kawa                   : “ Ya Bu.Saya bersedia demi kesembuhan bapak.”

Bu Rejo     : “ Terimakasih Kawa”

Kawa                   : “ Baiklah bu,saya langsung berangkat saja.Takut nanti terlalu malam kembali lagi kerumah.”

Bu Rejo     : “ Baiklah,ambilah ini sebagai bekal,aku taruh di punggungmu.Persediaan makanmu aku taruh di tas,bila kau lapar berhentilah untuk makan dan beristirahat.”

Kawa                   : “ Terimakasih bu atas bekalnya.Nanti pasti saya makan.”

Bu Rejo     : “ Iya sama-sama”

Kawa                   : “ Saya berangkat dulu bu,doakan saya selamat sampai rumah lagi.”

Bu Rejo     : “ Iya Kawa hati-hati dijalan.”

          Kawa pun berjalan menyusuri hutan untuk ketempat tabib yang berada di desa sebelah.Setelah sekian lama ia berjalan,ia berhenti sejenak untuk istirahat dan makan,kemudian ia kembali lagi menju ke rumah tabib tersebut.Pada akhirnya ia sampai dan bertemy tabib tersebut.Kawa pun mengajak tabib tersebut ke rumah Pak Purwo,sebelumnya ia menceritakan apa yang dialami Pak Purwo.Sang tabib pun berjalan bersama Kawa sambil membawa obat untuk Pak Purwo.Sesampainya mereka di rumah Pak Purwo,tabib pun mengobati Pak Purwo serta memberikanya obat ramuan yang dapat menyembuhkan penyakitnya.Beberapa hari kemudian pun Pak Purwo kembali sehat dan beraktifitas seperti biasa.Tahun berganti tahun Pak Purwo dan Bu Rejo yang sudah lama tidak memiliki buah hati akhirnya dikaruniai buah hati.Betapa bahagianya mereka dan Kawa pun ikut bahagia melihatnya,lalu mereka hidup bahagia selamanya.  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Materi Pemebelajaran IPA SD

Memahami hubungan antara sumber daya alam dengan lingkungan,teknologi,dan masyarakat